Berdasarkan Surat dari Satuan Pelayanan BPTPH Wilayah V Provinsi Jawa Barat Nomor: 026/PT.05.04/Satpel.BPTPH Wil.V tanggal 20 April 2026 perihal Rekomendasi Pengendalian OPT Padi 1-15 April 2026, dengan ini disampaikan peringatan dini pengendalian hama dan penyakit tanaman padi di wilayah Kabupaten Pangandaran.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa secara umum belum terdapat serangan OPT kategori ringan, sedang, maupun berat. Namun, terdapat 3 Hektar lahan padi di Kecamatan Cigugur yang berstatus TERANCAM Penyakit Blas (Pyricularia oryzae).
Untuk mengantisipasi dan menekan potensi penyebaran OPT, anjuran langkah-langkah pengendalian sebagai berikut:
A. PENGGEREK BATANG PADI
- Langkah Preemtif:
- Lakukan pengamatan mingguan.
- Kumpulkan kelompok telur (terutama di persemaian), kemudian inkubasikan agar parasitoid yang muncul dapat dilepaskan kembali.
- Pelepasan parasitoid Trichogramma sp.
- Pemasangan lampu perangkap (petromak atau listrik) untuk penangkapan ngengat, dikombinasikan dengan pemasangan bak berisi air campuran minyak tanah (perbandingan 40:1).
- Langkah Responsif:
- Eradikasi selektif tanaman terserang dengan cara mencabut dan memusnahkan beluk segar sampai bagian bawah malai untuk menekan populasi larva.
- Penggunaan insektisida efektif yang dianjurkan apabila populasi kelompok telur > 0.3/m2 atau pada spot-spot serangan bila ditemukan gejala sundep > 10%.
B. WERENG BATANG COKLAT (WBC)
- Langkah Preemtif:
- Pengamatan lebih intensif oleh petani dan petugas.
- Pengeringan lahan secara berkala, yaitu 1 hari diairi dan 3-4 hari dikeringkan untuk merubah iklim mikro sekitar tanaman padi.
- Pemanfaatan agens hayati Metarhizium sp. atau Beauveria sp., atau menggunakan pestisida nabati sesuai potensi daerah apabila populasi hama masih rendah.
- Penerapan sistem tanam Jajar Legowo pada musim tanam berikutnya.
- Langkah Responsif:
- Terus manfaatkan agens hayati Metarhizium sp. / Beauveria sp. atau pestisida nabati saat populasi masih rendah.
- Gunakan insektisida kimia yang diizinkan dan efektif bila populasi hama > 1 ekor/tunas pada tanaman muda, dan > 10 ekor/rumpun pada umur tanaman lebih dari 40 HST.
- Hindari penggunaan pestisida yang bukan anjuran.
C. HAMA TIKUS
- Langkah Preemtif:
- Pengamatan mingguan.
- Lakukan sanitasi lingkungan yang menjadi tempat persembunyian Tikus secara terus-menerus.
- Pelestarian musuh alami, salah satunya dengan pemasangan Rubuha (Rumah Burung Hantu).
- Langkah Responsif:
- Lakukan pengemposan asap belerang pada lubang aktif tikus.
- Pasang perangkap tikus (antara lain berbahan bambu), yang selain menjadi tempat persembunyian juga dapat memudahkan saat pemasangan umpan beracun.
- Pengumpanan dengan racun antikoagulan.
D. PENYAKIT BLAS (Pyricularia oryzae)
- Langkah Preemtif:
- Pengamatan lebih intensif oleh petani dan petugas.
- Pengeringan secara berkala untuk mengurangi kelembaban sekitar tanaman.
- Pemberian pupuk Kalium (K) untuk menekan serangan.
- Penerapan sistem tanam Jajar Legowo pada musim tanam berikutnya.
- Langkah Responsif:
- Pemanfaatan Agens Hayati seperti Paenibacillus polymyxa.
- Penggunaan fungisida efektif dan diizinkan, disemprotkan pada 2 minggu sebelum keluar malai khususnya di daerah endemis.
E. HAWAR DAUN BAKTERI (BLB / KRESEK)
- Langkah Preemtif:
- Pengamatan mingguan.
- Sanitasi inang pada saluran-saluran irigasi.
- Hindari penggenangan air terlalu dalam dan perbaiki saluran drainase.
- Pengeringan lahan secara berkala untuk mengurangi kelembaban iklim mikro.
- Penerapan sistem tanam Jajar Legowo pada musim tanam berikutnya.
- Langkah Responsif:
- Lakukan pengeringan secara berkala untuk mengurangi kelembaban di sekitar tanaman.
- Pemanfaatan Agens Hayati seperti Paenibacillus polymyxa.
Imbauan Tambahan: Untuk musim tanam berikutnya, petani dianjurkan menerapkan sistem tanam Jajar Legowo. Jika ditemukan gejala serangan OPT, segera laporkan dan berkoordinasi dengan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan POPT setempat.
